Senin, 09 April 2012

9 tehnik untuk berhenti berfikir negatif



Untuk sebagian besar dari kita, berpikir negatif mungkin sudah menjadi bagian dari diri. Ketika hal-hal tidak sesuai rencana, kita dengan mudah merasa depresi dan tidak bisa melihat sisi baik dari kejadian tersebut.
Berpikiran negatif tidak membawa kemana-mana, kecuali membuat perasaan tambah buruk, yang lalu akan berakibat performa kita mengecewakan. Hal ini bisa menjadi lingkaran yang tidak berujung.


Jessica Padykula menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif adalah sebagai berikut:
1. Hidup di saat ini
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.
2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.
3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.
4. Jangan berdiam diri
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.
5. Fokus pada hal-hal positif
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.
6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.
7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.
8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.
9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

Selasa, 03 April 2012

PERANAN DAN FUNGSI KURIKULUM


BAB I
PENDAHULUAN


A.    PENDAHULUAN

Pada hakikatnya tujuan pendidikan agama Islam adalah mengembangkan kemampuan anak didik untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini peranan guru agama sangat penting guna mentransfer ilmu yang mereka miliki untuk membantu anak didik berkembang lebih baik sesuai dengan norma-norma agama yang berlaku. Tetapi, peranan pembantukan akhlak anak didik tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, melainkan guru lain serta orangtua juga ikut berperan dalam pembentukan akhlak anak, terlebih adalah orangtua. Berhubungan dengan hal tersebut diatas, terkait dengan pengembangan kurikulum yang ada, memang banyak sebagian dari guru-guru agama disekitar kita mengeluh dengan kurangnya sosialisasi tentang KTSP kurikulum agama.
Kebingungan terjadi, terkait dengan silabus dan form RPP KTSP, serta materi ajar yang tidak sesuai. Hal ini membuktikan bahwa sampai detik ini KTSP yang sudah dimulai sejak tahun 2006 dan disosialisasikan sekitar tahun 2007 belum terealisasi dan tersosialisasikan secara maksimal kepada guru-guru selaku pelaksana pendidikan. Pengembangan kurikulum pendidikan agama, perlu adanya tinjauan ulang dan segera membuat gebrakan baru terkait melakukan gerak cepat sosialisasi secara menyeluruh tentang KTSP pendidikan agama guna pembenahan sistem instruksional yang lebih berbobot dan mengena pada sasaran, sehingga tujuan pendidikan agama dapat tercapai sesuai yang diharapkan, sebgaia akar pembentukan akhlak anak didik. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman anak didik tentang pelajaran agama yang membutuhkan penelitian di laboratorium. Tetapi sampai detik ini mungkin belum terpikir oleh pihak sekolah-sekolah atau madrasah tentang manfaat dan pentingnya sebuah laboratorium agama.
Hal ini dapat menjadikan motivasi belajar siswa untuk lebih semangat lagi dalam mempelajari mata pelajaran agama, jadi tidak hanya sekedar ceramah tapi bisa langsung mempraktikkan di laboratorium mata pelajaran yang diperlukan untuk praktik. Inilah sebagian titik lemah yang ada pada kurikulum pendidikan agama. Dalam perkembangan suatu negara tergantung pada mutu suatu pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu penunjang dalam perkembangan negara, dalam perkembangan modernisasi ini negara kita ingin mencoba ikut berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan seperti negara-negara maju khususnya.
Di negara-negara maju telah banyak mengalami perubahan terutama dalam hal pendidikan, karena bagi mereka pendidikanlah yang membentuk suatu negara itu akan berkembang pesat, seperti yang telah dikatakan oleh orang Jerman pada waktu mereka kalah dalam berperang “pendidikanku telah mati”, bagaimana pendidikan tersebut bisa berkembang? Salah satu cara mengembangkan pendidikan tersebut adalah mengembangkan dalam tubuh pendidikan yaitu kurikulum, karena kurikulum yang dijadikan acuan dalam pendidikan. Sebuah kurikulum tidak hanya sekedar instruksi pembelajaran yang disusun oleh pemerintah untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Sinclair (2003) menegaskan bahwa kurikulum yang baik adalah yang memberi keleluasaan bagi sekolah untuk mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan khusus peserta didik sesuai tuntutan lingkungan masyarakatnya.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari uraian yang telah penulis paparkan diatas dapat ditarik tiga pokok permasalahan yang akan diangkat dalam makalah ini. Hal ini tidak lain bertujuan agar pembahasan tidak melenceng dari pokok permasalahan yang telah ditentukan. Pokok-pokok permasalahan tersebut adalah:
1. Apa pengertian kurikulum?
2. Apakah fungsi kurikulum PAI itu?
3. Apakah peranan Kurikulum PAI itu?
4. Apa korelasi KTSP dengan PAI?

BAB II
PEMBAHASAN

PERANAN DAN FUNGSI KURIKULUM


A.    Pengertian Kurikulum
Sebagai guru agama Islam mungkin sudah biasa membaca konsep atau pengetian kurikulum diberbagai buku pendidikan, majalah atau surat kabar. Atau kita telah mendengar melalui berbagai penataran atau narasumber. Namun untuk mengingat kembali dan memperluas wawasan perlu kami jelaskan konsep atau pengertian kurikulum dalam pendidikan.
Istilah kurikulum awal mulanya digunakan dalam dunia olahraga pada zaman Yunani kuno, Curriculum, barasal dari kata Curir, artinya pelari, dan Curere artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan “jarak” yang harus “ditempuh” oleh pelari. Dari makna yang terkandung dari kata tersebut, kurikulum secara sederhana diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan untuk sisiwa sekolah. Kurikulum disusun oleh para pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta masyarakat lainnya. Rencana ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidika, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendir, keluarga, maupun masyarakat.
Dalam dunia pendidikan istilah kurikulum telah dikenal sejak kurang lebih satu abad yang lampau. Dalam kamus Webster tahun 1856 untuk pertama kalinya digunakan istilah kurikulum. Pada waktu itu kurikulum dipakai dalam bidang olahraga, yaitu suatu alat yang dibawa seseorang sejak “start” sampai “finish”.
Ada yang menyatakan bahwa penggunaan istilah kurikulum terjadi sekitar tahun 1820 meskipun sebelumnya sudah digunakan di Skotlandia sejak awal abad ke-17. Kurikulum pada waktu itu diartikan sebagai mata pelajaran yang harus diambil untuk suatu pendidikan atau training. Kurikulum sama dengan isi buku teks, Garis-Garis Besar Program Pendidikan (GBPP), pedoman guru, serta alat pelajaran yang diperlukan suatu mata pelajaran. Kurikuum adalah semua rencana yang terdapat dalam proses pembelajaran. Kurikululm dapat diartikan pula sebagai semua usaha lembaga pendidikan yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang disepakati.  Pengertian kurikulum tersebut secara umum masih digunakan sampai tahun 1930-an. Pemahaman kurikulum yang demikian didasarkan pada pemikiran atau filsafat pendidikan yang menganggap kurikulum adalah program yang diberikan secara direncanakan di sekolah. Berdasarkan sejarah perkembangan diatas, maka konsep kurikulum memiliki sekurang-kurangnya tiga pengertian:
1)      Kurikulum adalah program pendidikan yang terdiri dari beberapa mata pelajaran yang harus diambil oleh anak didik pada suatu jenjang sekolah.
2)      Kurikulum adalah semua pengalaman yang diperoleh anak selama di sekolah.
3)      Kurikulum adalah rencana belajar siswa agar mencapai tujuan yang ditetapkan.

B.     Fungsi dan Peran Pengembangan Kurikulum PAI
1.      Fungsi Pengembangan Kurikulum PAI
a.       Fungsi Pengembangan Kurikulum PAI
Kurikulum PAI pada hakikatnya adalah merupakan cita-cita, rencana ideal untuk mencapai tujan pendidikan. Sebagai rencana, cita-cita ideal pada hakikatnya bisa terlaksana bisa tidak, atau akan terlaksana seluruhnya, sebagian besar atau sebaliknya hanya sebagian kecil saja.
Siapa yang melaksanakan kurikulum PAI ini, tentunya adalah guru PAI. Sebab guru PAI adalah orang yang bertanggung jawab dan langsung pelaksana kurikulum. Dengan kurikulum guru dapat merumuskan pembinaan kurikulum, jadwal pelaksanaan kurikulum dan sebagainya. Guru juga dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai pada setiap mengajarkan pokok bahasan. Tanpa adanya kurikulum guru tidak akan dapat mengajar dengan baik, sebab tidak ada pedoman untuk menetapkan tujuan, isi/bahan pelajaran, metode sampai kepada evaluasi.

b.      Fungsi dan peranan kurikulum PAI dalam proses pendidikan, yaitu:
1)      Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Nasional
Kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Sehingga salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang dianggap selama ini digunakan oleh sekolah yang bersangkutan. Maksudnya adalah bila tujuan-tujuan yang diinginkan belum tercapai, maka sekolah tersebut cenderung untuk meninjau kembali kurikulumnya.
2)      Fungsi kurikulum bagi siswa Kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun disiapkan untuk siswa sebagai salah satu konsumsi pendidikan mereka. Dengan demikian diharapkan mereka akan mendapat sejumlah pengalaman baru yang kelak kemudian hari dapat dikembangkan seiramadengan perkembangan siswa, guna melengkapi bekal hidupnya.

c.       Fungsi kurikulum bagi guru Ada beberapa fungsi kurikulum bagi guru, antar lain:
1)      Sebagai pedoman kerja dalam menyusun atau mengorganisasikan pengalaman belajar siswa
2)      Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang dibutuhkan

d.      Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan pembina sekolah antara lain:
1)      Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar
2)      Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menun jang situasi belajar anak ke arah yang lebih baik
3)      Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru untuk mempernaiki situasi mengajar
4)      Dapat dijadikan pedoman untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut
5)      Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi kemajuan belajar mengajar.

e.       Fungsi kurikulum bagi orang tua siswa
Kurikulum bagi orang tua siswa mempunyai fungsi agar orang tua siswa dapat berpartisipasi membantu usaha sekolah dalam memajukan putra putrinya. Bantuan dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah atau guru mengenai masalah-masalah yang menyangkut anak-anak mereka. Bantuan yang berupa materi dapat melalui lembaga komite sekolah atau dewan pendidikan.

f.       Fungsi kurikulum bagi sekolah pada tingkat atas Ada dua fungsi ,antara lain:
1)      Pemelihara keseimbangan proses pendidikan Sekolah pada tingkat atasnya dapat mengadakan penyesuaian di dalam pengembangan kurikulumya bisa mengurangi atau menambahai sesuai dengan kebutuhan.
2)      Penyiapan tenaga baru Di sekolah berfungsi menyiapkan tenaga baru bagi guru sekolah yang berada dibawahnya, makasekolah perlu mengetahui kurikulum sekolah yang berada di bawahnya yang meliputi pengetahuan isi, susunan(organisasi maupun cara mengajarnya)
g.      Fungsi kurikulum bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah
Dengan mengetahui kurikulum sekolah, masyarakat pemakai lulusan dapat melakukan sekurang-kurangnya dua hal:
1)      Ikut memberikan bantuan guna memperlancar program pendidikan yang membutuhkan kerjasama dengan pihak orang tua atau masyarakat.
2)      Ikut memberikan kritik atau saran yang membangun dalam rangka menyempurnakan program pendidikan di sekolah agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.
Secara operasional penggunaan kurikulum oleh guru mencakup perumusan tujuan, penentuan materi, menentukan srtategi belajar, dan mempersiapkan evaluasi. Semua langkah-langkah tersebut biasanya dituangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara tertulis.
1)      Merumuskan indikator yang akan dicapai
2)      Setiap guru yang akan mengajar harus merumuskan indikator sebagi penjabaran dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ada dalam standar isi. Setiap pokok atau sub pokok pembahasan yang diajarkan harus dirumuskan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaanya lebih terarah, lebih mudah dievaluasi sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai. Karenanya ada beberapa ketentuan bagaiamana merumuskan indikator yang benar.
3)      Menentukan isi atau pokok bahasan atau mencoba mengorganisasinya kembali untuk lebih efektif dan efisien proses belajar mengajar, sebagai contoh, bagaimana mengajarkan shalat dikaitkan dengan pelajaran membaca Alqur’an, karena didalamnya ada bacaan Al Fatihah dan surat tertentu.
4)      Merumuskan bentuk kegiatan atau strategi belajar, seperti menemukan metode yang digunakan, alat belajar dan lingkungan sebagai sumber belajar, langkah-langkha kegiatan sampai kepada bentuk evaluasi.
5)      Penilaian kurikulum. Guru setelah memberikan pelajaran dilanjtkan dengan evaluasi belajar, untuk melihat sejauh mana proses belajar yang baru saja dilakukan mencapai tujuan yang ditetapkan. Evaluasi sebaiknya mencakup dua aspek, yaitu aspek perolehaan dan aspek proses.

2.      Peran Pengembangan Kurikulum PAI
Adapun peran pengambangan kurikulum dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1)      Peran konservatif
Maksudnya adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada anak didik atau generasi muda. Sekolah berperan penting dalam mempengaruhi dan membina tingkah laku anak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat.

2)      Peran kritis atau evaluative
Kurikulum selain mewariskanatau mentransmisikannilai-nilai generasi mudajuga sebagai alat untuk mengevaluasi kebudayaan yang ada.

3)      Peran kreatif
Kurikulum dapat menciptakan dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masamendatang dalam masyarakat.

C.    Korelasi KTSP dengan PAI
Dalam merespon fenomena yang terjadi pada realitas masa kini manusia berpacu mengembangkan pendidikan disegala ilmu termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring dengan munculnya krisis multi dimensi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara peranan serta efektifitas agama di sekolah sebagai pemberi nilai spiritual pada peserta didik dipertanyakan. Maka berangkat dari hal tersebut agar kurikulum pendidikan agama Islam sesuai dengan tujuan situasi dan kondisi zaman untuk dapat merespon kehidupan yang kaya problem PAI menghadirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pandidikan (KTSP). Alasannya mungkin jika pendidikan agama dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakatpun akan lebih baik.
Kurikulum bertujuan pada apa yang hendak dicapai. Seperti halnya KBK bertujuan untuk tercapainya kompetensi peserta didik dalam menangkap materi yang disampaikan. Sama dengan kurikulum PAI yang berbasis kompetensi juga memiliki tujuan yang sama dengan KTSP hanya saja terdapat tambahan kalau KBK untuk berkompetensi dalam mencapai materi yang berpendidikan umum dan orientasinya pada kecerdasan untuk berkompetisi di dunia masyarakat setelah siswa keluar (lulus) dari dunia pendidikan.
Namun pada kurikulum PAI ada hal yang lebih pokok yang memang diharapkan dan bukan hanya dalam target tujuan PAI tapi juga sebagai pendidikan yang lahir dari agama Islam diharapkan dapat berkompetensi jasmani dan rohani, artinya berkompetensi dalam hal sikap, skill, pengetahuan secara afektif, kognitif, psikomotorik sesuai dengan ajaran agama Islam dalam aspek jasmani.
Namun juga melebihi hal itu berkompetensi dalam aspek rohani mereka mampu berkompetensi untuk mengisi kehidupan atau sebagai bekal untuk akhiratnya, dan aspek kedua ini sangat hirarki dengan aspek pertama. Maka tujuan PAI adalah tercapainya kompetensi keduanya yakni dunia dan akhirat.
Menurut Muhammad Al-Munir menjelaskan tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai berikut:
1)      Tercapainya manusia seutuhnya, karena Islam itu adalah agama yang sempurna.
2)      Tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat, merupakan tujuan yang seimbang.
3)      Menumbuhkan kesadaran manusia mengabdi, dan takut kepada-Nya.

Kurikulum berbasis kompetensi dan kurikulum pendidikan PAI memiliki landasan yang sama berdasarkan negara yang didudukinya, landasan kedua kurikulum tersebut adalah:
1.      Landasan Agama
Penting landasan agama dalam sebuah kurikulum adalah untuk menjaga agar supaya tidak terjadi penurunan nilai-nilai agama dan norma-norma sosial yang selalu diagungkan oleh Indonesia.

2.      Landasan Filosofis
Pendidikan bertujuan untuk mendidik manusia yang “baik” apakah yang dimaksud dengan “baik” pada hakikatnya maka hal itu harus berorientasi pada filsafat yang dijadikan dasar dan landasan dalam kurikulum.
3.      Landasan Psikologis
Landasan psikis memberikan prinsip-prinsip tentang perkembangan anak dalam berbagai aspek serta cara belajar agar bahan yang diberikan dapat dicerna dan dikuasai oleh anak sesuai dengan taraf perkembangan.

4.      Landasan Sosiologis
Landasan ini memberikan dasar untuk menentukan hal-hal yang akan dipelajari peserta didik sesuai kebutuhan masyarakat, kebudayaan dan perkembangan IPTEK dan teknologi. Karena anak didik tidak hidup sendiri, tapi hidup dalam dunia masyarakat.

5.      Landasan Sains dan Teknologi
Landasan ini dimaksudkan untuk memacu pembangunan menuju terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera.

















BAB III
PENUTUP


Segala puji kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kesehatan kepada kita semua. Sehingga terselesaikannya pembuatan makalah ini.
            Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua dari zaman jahiliyah menuju zaman modern seperti sekarang ini.
A.    Kesimpulan

1)      Dalam suatu negara bisa berkembang apabila pendidikan didalam cukup baik, karena pendidikan merupakan salah satu faktor penentu dalam negara-negara maju yang pertama kali mereka titik tekankan adalah bagaimana pendidikan itu berkembang, salah satu cara mereka mengembangkan kurikulum, karena pendidikan bisa berkembang apabila kurikulumnya itu baik karena kurikulum meliputi rencana, tujuan, isi, organisasi, strategi dalam pendidikan.
2)      Kurikulum merupakan sebuah proses pembelajaran yang baik dan terencana karena memiliki target dan tujuan.
3)      Kaitannya kurikulum berbasis kompetensi ini dengan PAI ada hal yang lebih pokok yang memang diharapkan dan bukan hanya dalam target tujuan PAI tapi juga sebagai pendidikan yang lahir dari agama Islam diharapkan dapat berkompetensi dalam hal sikap, skill, pengetahuan secara afektif, kognitif, psikomotorik sesuai dengan ajaran agama Islam dalam aspek jasmani.





DAFTAR PUSTAKA

1.      Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.
2.      Muslam , Pengembangan Kurikulum PAI, Semarang:PKPI2,2003.
3.      Nana Syaudih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Rosdakarya, 2007..
4.      www.google.com/ peranan kurikulum PAI